Banjir Jakarta

Problem ibukota Jakarta tidak hanya soal kemacetan. Ada bencana musiman yang sudah menjadi langganan Jakarta dan sekitarnya. Yaitu banjir, Hujan pada 25 Oktober 2010 lalu berhasil “menaklukkan” Jakarta dan sekitarnya…..

Problem ibukota Jakarta tidak hanya soal kemacetan. Ada bencana musiman yang sudah menjadi langganan Jakarta dan sekitarnya. Yaitu banjir, Hujan pada 25 Oktober 2010 lalu berhasil “menaklukkan” Jakarta dan sekitarnya. Tercatat genangan sekitar 20 sampai 40 sentimeter merendam berbagai kawasan di Jakarta, kawasan bisnis Segitiga Emas pun tidak terhindarkan dari banjir. Akhirnya berujung pada kemacetan panjang. Di Bintaro, ada sebuah RT yang 160 dari 180 jumlah total rumah warganya kebanjiran hingga dua meter. Banjir di Senin petang itu adalah banjir terparah sepanjang tahun 2010.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memerkirakan hujan masih akan mengguyur Jakarta hingga Ferbruari tahun depan. “Hujan deras diperkirakan terjadi setiap sore”, kata Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara BMKG Edvin Aldrian. Hujan deras pada tanggal 25 Oktober 2010 menurutnya disebabkan oleh tiga hal, yaitu suhu muka laut yang panas, La Nina dari Samudera Pasifik, serta Indian Ocean Dipole Mode dari Samudra Hindia.

Penyebab Jakarta selalu kebanjiram adalah wilayah Jakarta yang memiliki kondisi geografis lebih rendah dari permukaan air laut, keadaan tanah Jakarta yang sudah jenuh sehingga tidak mampu lagi menampung curah hujan tinggi, dan terdapat 13 sungai yang melintas. Buruknya sistem drainase di hampir semua wilayah memperparah keadaan Jakarta. Ini diungkapkan oleh Kepala Bidang Teknologi Pengendalian Pencemaran Lingkungan BPPT Arie Herlambang. Jakarta harus bisa menghadapi cuaca ini dengan lebih mempersiapkan dan menanggulangi aspek-aspek penyebab banjir mengingat ini bukan kali kedua terjadi banjir di Jakarta.

Guru besar Fakultas FMIPA Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dr. Hidayat Pawitan mengatakan di Bogor, Jawa Barat, Pemerintah DKI Jakarta membutuhkan sekitar 1.000 waduk penampung air hujan yang satu sama lain terhubung dengan pompa air, sebagai salah satu solusi menghadapi banjir yang disebabkan oleh tingginya curah hujan di wilayah hilir. Odealnya setiap 100 hektare lahan dibutuhkan satu waduk seluas satu hektare.

“Untuk mengamankan areal seluas 100 hektare dibutuhkan satu waduk seluas satu hektare. Dengan kedalaman lima meter waduk tersebut bisa menampung sekitar 50 ribu meter kubik air,” kata pakar tata air dari Departemen Geofisika dan Meteorologi FMIPA tersebut. Tetapi jumlah ideal tersebut harus disesuaikan dengan kondisi dan prioritas pembangunan Pemda DKI Jakarta, untuk menentukan daerah mana yang sekiranya paling membutuhkan waduk tersebut.

Menurut Hidayat, pemerintah kolonial Belanda dulu juga sudah membangun waduk untuk menampung air, tetapi belum terkoneksi satu sama lain dengan pompa air. Saat ini di kota seluas 650 ribu hektare tersebut terdapat 42 waduk dan 14 situ.

Situasi sekarang, lanjut dia, berbeda karena daratan Jakarta sudah semakin ambles sedangkan curah hujan lebih tinggi karena cuaca ekstrem. Sehingga dibutuhkan pompa air untuk mengalirkan air dari waduk menuju saluran alam yaitu sungai dan laut.

Berdasarkan paparan di atas, dapat ditarik kesimpulan, bencana ini bisa ditanggulangi dengan berbagai tindakan, yaitu :

1. Memperbaiki mikro drainase kota secara optimal. Menurut pakar tranportasi dan tata kota, Yayat Supriatna, sistem drainase di Jakarta selama 30 tahun tidak pernah berubah. Gorong-gorong kini telah makin menyempit, tidak tersebar, tidak jelas hilirnya dan seringkali tersumbat sampah dan utilitas seperti kabel dan pipa saluran air PAM. Drainase mempunyai andil besar dalam mencegah bencana ini. Drainase berfungsi untuk mengalirkan air secara horizontal maupun vertical, mengendalikan erosi, dan yang paling penting mengendalikan limpahan air hujan yang berlebihan. Bisa jadi, pencegahan ini terbilang sederhana, namun cara ini sangat efektif. Sistem drainase yang baik memudahkan limpahan air hujan mengalir dengan cepat menuju danau, kali, sungai dan laut, sehingga dapat mengurangi genangan dan banjir.

Saya mengamati saat perbaikan jalan di daerah Rempoa dengan sistem cor, para pekerja tidak memperbaiki gorong-gorong. Jalan menjadi lebih tinggi daripada toko-toko yang ada di pinggir jalan. Sehingga saya khawatir air hujan dari badan jalan akan turun ke toko-toko tersebut. Bentuk dari jembatan dari jalan ke toko yang dibangun kembali karena sebelumnya dibongkar untuk peninggian jalan pun semakin mendukung hal itu terjadi. Sedangkan gorong-gorong yang tersisa tersumbat sisa material pembuatan jalan. Airn di gorong-gorong pun tidak mengalir dan menggenang berhari-hari.

Sebaiknya, saat ada perbaikan jalan, dilakukan pula perbaikan saluran drainase, seperti yang dilakukan di daerah Way Kandis, Bandar Lampung. Sehingga wilayah Way Kandis tidak pernah terjadi banjir.

2. Memperbaiki Daerah Aliran Sungai (DAS). Perbaikan tersebut tergantung dari kondisi DAS berupa lebar dan kedalaman. Selain itu memperbaiki DAS juga tidak bisa hanya Pemda yang berperan aktif, semua instansi dan berkaitan harus bersama-sama memiliki tujuan memperbaiki dan menjaga DAS. DAS yang harus menjadi prioritas perhatian pemerintah adalah DAS Ciliwung dan Cisadane. Di kedua DAS itu sekarang terjadi pendangkalan dan penyempitan. Menurut BPPT, penanganan banjir dengan cara ini termasuk murah dibandingkan dengan kerugian yang diderita.

3. Pengerukan sungai yang telah mendangkal secara serius dan terintegrasi. Langkah pengerukan dinilai penting karena kemampuan sungai-sungai di Ibu Kota untuk menampung air telah berkurang hingga 70 persen. Pendangkalan sungai biasanya terjadi pada wilayah hilir sungai atau muara sungai. Hal itu disebabkan derasnya aliran air yang mampu mengikis batuan dan tanah yang dilewatinya. Yang kemudian menimbulkan endapan bagi wilayah hilir atau muara sungai. Kondisi tersebut membuat fungsi dari sungai mengalami penurunan akibat endapan.

4. Menurut Prof. Dr. Hidayat Pawitan, Pemerintah DKI Jakarta membutuhkan sekitar 1.000 waduk penampung air hujan yang satu sama lain terhubung dengan pompa air, sebagai salah satu solusi menghadapi banjir yang disebabkan oleh tingginya curah hujan di wilayah hilir. Odealnya setiap 100 hektare lahan dibutuhkan satu waduk seluas satu hektare.

5. Menimbulkan kesadaran seluruh masyarakat untuk sama-sama mencari dan menjalankan solusi-solusi pemecahan masalah banjir ini. Menurut saya, ini hal yang penting dan sulit. Di tengah situasi kota yang penuh dengan kesibukan, orang cenderung mementingkan kepentingan pribadinya dibanding kepentingan sesama. Sungguh, apabila seluruh warga ikut berperan aktif dalam menangani banjir Jakarta, Jakarta akan punya kekuatan yang luar biasa untuk mengatasi banjir. Kekuatan persatuan itulah yang menurut saya sangat dibutuhkan.

Dikutip dari berbagai sumber :
1. http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/metropolitan/10/11/02/143944-biar-tak-banjir-jakarta-perlu-1000-waduk
2. http://www.mediaindonesia.com/citizen_read/895
3. http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/02/tgl/02/time/211349/idnews/737690/idkanal/10
4. http://karodalnet.blogspot.com/2010/02/banjir-jakarta-13-februari-2010.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s