KRL

Transportasi massal di Negara kita masih kurang optimal. Sebenarnya bila dikelola dengan baik, masalah kemacetan bisa dipecahkan. Misalnya saja Kereta Rangkaian Listrik (KRL) yang bisa saya gunakan dari stasiun Bojong Gede ke Pondok Cina. Awalnya bagus dan cepat, tapi lama kelamaan mutunya semakin buruk. Jadwal keberangkatan menjadi semerawut, kereta sering mogok, penumpang terlalu padat, dan banyak yang tewas karena tersengat arus listrik kabel di atap KRL.

Di lain sisi, PT Kereta Api (KA) mengumumkan penambahan 40 unit kereta rel listrik bekas yang diimpor dari Jepang hingga pertengahan 2010. “Sampai pertengahan 2010 ada 40 unit kereta rel listrik (KRL) bekas yang kami beli dari Jepang,” kata Sekretaris Perusahaan PT Kereta Api Indonesia Commuter Jabotabek (KCJ), anak perusahaan PT KA, Makmur Syaheran kepada pers di Jakarta, Rabu.

Beliau menjelaskan, 10 unit KRL bekas dari Jepang dengan tahun pembuatan 1980-an itu, diturunkan dari kapal di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta. Kemudian 10 unit lagi dijadwalkan datang pada Mei dan sisanya 20 unit lagi pada Juni 2010 sehingga pada pertengahan tahun sudah 40 unit. “Kemampuan peron di Jabotabek rata-rata 8 unit kereta sehingga 40 unit tersebut akan jadi empat rangkaian, kereta sisanya untuk cadangan,” katanya.

Tidak hanya itu, lanjutnya, pihaknya juga sedang melakukan tender pengadaan 50 unit KRL bekas hingga akhir 2010 sehingga total pengadaan menjadi 90 unit. “Selain itu, kami juga dijadwalkan dapat tambahan 8 KRL baru buatan PT Inka yang bersumber dari pengadaan Ditjen Perekeretaapian Kementerian Perhubungan,” katanya. Khusus 10 unit KRL yang tiba Rabu (21/4), Beliau mengatakan, diperkirakan baru siap operasi sekitar satu bulan lagi. Makmur menambahkan, harga per unit KRL bekas diperkirakan sekitar Rp1 miliar. “Ini termasuk murah dan kondisinya sangat bagus,” katan Beliau.

Sebenarnya impor KRL untuk menambah jumlah gerbong memang bagus. Diharapkan banyak penumpang yang tadinya duduk di atas gerbong dan mempertaruhkan nyawanya demi naik kereta.
Tapi kalau bekas, ada kekhawatiran kereta akan “rewel” dan merugikan. Kereta yang diimpor adalah kereta bekas. Mendatangkan KRL dari Jepang jelas lebih murah ketimbang memesan dari PT Industri Kereta Api (Inka). Selain pertimbangan harga, proses pengiriman KRL berusia 20 tahunan dari Jepang lebih cepat ketimbang menunggu pembangunan KRL oleh Inka.

Tapi, bagaimana soal suku cadang jika harus ada suku cadang yang diganti ? Tidak tahu. Bukan jangkauan saya. Dari sumber saya yang saya peroleh, untuk seri 6000, suku cadangnya sudah tidak lagi tersedia karena semua serinya sudah tidak lagi beroperasi di jalur asalnya (Mita Line) dan pihak Toei sebagai penjual tidak menyediakan suku cadang untuk KRL tersebut sehingga suku cadangnya dibuat sendiri oleh produsen lokal atau kanibal dari yang tidak beroperasi karena PLH (6252 dan 6155), sedangkan untuk seri 1000 dan 5000 (keduanya sebenarnya eks Tokyo Metro) ketersediaan suku cadang mereka sudah cukup langka mengingat banyak di antara mereka yang sudah tidak lagi beroperasi dan dirucat (ada seri 5000 di Chiyoda Line yang masih beroperasi sehingga kemungkinan sparepart masih diproduksi oleh pabrik pembuatnya).

Pada seri 103, meski banyak yang tidak beroperasi di jalur asalnya, tetapi masih ada di jalur lainnya sehingga kemungkinan besar masih diproduksi oleh pabrik pembuatnya.

Untuk seri 8500 (eks Tokyu), 7000 dan yang akan datang seri 05 (eks Tokyo Metro), beberapa dari mereka masih beroperasi di jalur masing-masing (pada Tokyu 8000 meskipun semua unitnya sudah tidak lagi beroperasi di Toyoko Line suku cadangnya masih diproduksi karena ada unit sisanya yang masih dioperasikan oleh Izukyu).

Permasalahannya, untuk seri 103, 1000, 5000, dan 6000 masing-masing kereta dirakit oleh beberapa pabrikan yang terpisah.

Dengan keadaan seperti ini, maka impor dikhaawatirkan malah merugikan. Koordinator Forum Perkeretaapian MTI Djoko Setijowarno mengatakan PT KA dan Kemenhub harus memulai memesan KRL baru dari Inka yang selama ini membeli bekas dari Jepang. komitmen pelibatan Inka akan merevitalisasi BUMN itu dalam memproduksi KRL baru di dalam negeri yang selama ini terlupakan dengan program impor KRL bekas dari Jepang.

Dalam beberapa tahun terakhir lanjut Djoko, PT KA memilih membeli KRL bekas asal Jepang dengan alasan lebih murah dan siap pakai dibangdingkan dengan memesan KRL baru dari Inka dengan alasan lebih mahal sekaligus lebih lama prosesnya.

Namanya juga bekas, pasti murah dan tinggal pakai. Tapi kehandalanya ?

Djoko menegaskan Inka seharusnya dapat menawarkan harga pemesanan KRL baru lebih kompetitif ketimbang membeli KRL bekas dari Jepang yang belum diketahui keandalannya dan tidak memiliki jaminan suku cadang.

Saat ini, tuturnya, Inka juga telah berpengalaman membangun KRL baru setelah BUMN itu turut serta dalam tender pengadaan KRL baru di Malaysia. “Produk KRL INKA memiliki kandungan lokal yang cukup tinggi sehingga menguntungkan dalam negeri,” tegasnya.

Lagi pula, kalau beli produk sendiri, pasti lebih baik. Produsen dalam negeri lebih paham keadaan di negaranya. KRL jepang kurang lebar. Jika kondisi padat, akan terasa betapa sempitnya kereta bekas itu. Menguntungkan negara kita sendiri tentunya jika beli produk buatan negara sendiri. Sebuah prestasi bagi bangsa kita.

Sumber :
1. http://www.antaranews.com/berita/1271866122/pt-ka-tambah-40-krl-bekas
2. http://www.tribunnews.com/2010/04/22/kereta-rel-listrik-bekas-jepang-lebih-murah-dari-inka
3. http://www.tender-indonesia.com/tender_home/innerNews2.php?id=4675&cat=CT0017
4. http://70.40.210.59/showthread.php?mode=linear&tid=4318&pid=170202

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s