BAB VIII. ILMU PENGETAHUAN,TEKNOLOGI DAN KEMISKINAN

1. Ilmu Pengetahuan
Menurut Decartes ilmu pengetahuan merupakan serba budi, Bacon dan Dvid Home diartikan sebagai pengalaman indera dan batin, menurut Imannuel Kant pengetahuan merupakan persatuan antara budi dan pengalaman. Banyaknya teori mengenai ilmu pengetahuan membuat sulit mencari definisi daari ilmu pengetahuan. Namun saya mendefinisikan ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang diperoleh dari pengalaman hidup seseorang untuk diterapkan pada kehidupannya. Sekarang ini pengetahuan ilmiyah harus ditingkatkan karena pengetahuan, perbuatan, ilmu, dan etika saling berkaitan. Semua itu harus digunakan sebagai satu kesatuan, agar tercipta keharmonisan dalam diri seseorang.

2. Teknologi
Teknologi, menurut Djoyohadikusumo (1994, 222) berkaitan erat dengan sains (science) dan perekayasaan (engineering). Dengan kata lain, teknologi mengandung dua dimensi, yaitu science dan engineering yang saling berkaitan satu sama lainnya. Sains mengacu pada pemahaman kita tentang dunia nyata sekitar kita, artinya mengenai ciri-ciri dasar pada dimensi ruang, tentang materi dan energi dalam interaksinya satu terhadap lainnya.

Dapat dikatakan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi adalah kesatuan seni yang mengandung arti sesuatu yang berhubungan dengan proses produksi. Bagaimana seluruh sumber daya yang ada, baik sumber daya manusia, sumber daya alam, keterampilan, tanah, dan sumber-sumber lainya dikombinasikan untuk digunakan untuk melakukan proses produksi. Teknologi memperlihatkan fenomena dalam masyarakat sebagai hal impersonal dan memiliki otonomi mengubah setiap bidang kehidupan.

Fenomena teknik pada masyarakat menurut Sastrapratedja (1980) memiliki ciri-ciri sebagai beriku :
1. Rasionalitas, tindakan spontan oleh teknik diubah menjadi tindakan yang direncanakan dengan perhitungan rasional
2. Artifisialitas, artinya selalu membuat sesuatu yang buatan tidak alamiah
3. Otomatisme, artinya dalam hal metode, organisasi dan rumusan dilaksanakan serba otomatis. Demikian pula dengan teknik mampu mengelimkinasikan kegiatan non-teknis menjadi kegiatan teknis.
4. Teknik berkembangan pada suatu kebudayaan.
5. Monisme, artinya semua teknik bersatu, saling berintaksi, dan saling bergantung.
6. Universalisme, artinya teknik melempaui batas-batas kebudayaan dan ediologi, bahkan dapat menguasai kebudayaan
7. Otonomi, artinya teknik berkembang menurut prinsip-prinsip sendiri.

3. Kemiskinan
Kemiskinan lazimnya dilukiskan sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok. Kemiskinan merupakan tema sentral dari perjuangan bangsa, sebagai inspirasi dasar dan perjuangan akan kemerdekaan bangsa, dan motivasi fundamental dan cita-cita menciptakan masyarakat adil dan makmur.

Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan. Kemiskinan menjadi suatu kebudayaan (culture of provietry) atau suatu subkultur yang mempunyai struktur dan jalan hidup yang telah menjadi turun-temurun melalui jalur keluarga. Kemiskinan yang membudaya disebabkan oleh proses perubahan sosial secara fundamentalis. Seperti transit dari feodalisme menjadi kapitalisme, perkembangan teknologi yang pesat, kolonialisme, dan lain-lain. Untuk mengatasinya tidak lain dan tidak bukan adalah revolusi yang sama raikal dan meluasnya.

Karena kemiskinan salah satunya disebabkan oleh struktur ekonomi, maka terlebih dahulu perlu memahami inti pokok dari suatu struktur. Inti pokok dari struktur adalah realisasi hubungan antara suatu subjek dan objek, dan antara subjek komponen yang merupakan bagian dari suatu sistem.

Kemiskinan dipelajari oleh banyak ilmu, seperti ilmu sosial, ekonomi, dan budaya.
Dalam ekonomi, dua jenis kemiskinan dipertimbangkan: kemiskinan absolut dan relatif.

Dalam politik
Perlawanan terhadap kemiskinan biasanya dianggap sebagai tujuan sosial dan banyak pemerintahan telah berupaya mendirikan institusi atau departemen. Pekerjaan yang dilakukan oleh badan-badan ini kebanyakan terbatas hanya dalam sensus dan pengidentifikasian tingkat pendapatan di bawah di mana warga negara dianggap miskin. Penanggulangan aktif termasuk rencana perumahan, pensiun sosial, kesempatan kerja khusus, dll. Beberapa ideologi seperti Marxisme menyatakan bahwa para ekonomis dan politisi bekerja aktif untuk menciptakan kemiskinan. Teori lainnya menganggap kemiskinan sebagai tanda sistem ekonomi yang gagal dan salah satu penyebab utama kejahatan.

Dalam hukum
Telah ada gerakan yang mencari pendirian “hak manusia” universal yang bertujuan untuk menghilangkan kemiskinan.

Dalam pendidikan
Kemiskinan mempengaruhi kemampuan murid untuk belajar secara efektif dalam sebuah lingkungan belajar. Terutama murid yang lebih kecil yang berasal dari keluarga miskin, kebutuhan dasar mereka seperti yang dijelaskan oleh Abraham Maslow dalam hirarki kebutuhan Maslow; kebutuhan akan keamanan dan rumah yang stabil, pakaian, dan jadwal makan yang teratur membayangi kemampuan murid-murid ini untuk belajar. Lebih jauh lagi, dalam lingkungan pendidikan ada istilah untuk menggambarkan fenomen “yang kaya akan tambah kaya dan yang miskin bertambah miskin” (karena berhubungan dengan pendidikan, tetapi beralih ke kemiskinan pada umumnya) yaitu efek Matthew.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s