Penemaran Sungai di Jakarta

Sudah bukan hal yang baru lagi di Jakarta, sungai yang kotor dan tercemar. Menimbulkan aroma yang tidak sedap, serta menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan bagi warga di sekitar sungai. Pencemaran sungai di Jakarta dari tahun ke tahun semakin tinggi. Sebanyak 13 sungai di Jakarta tercemar akibat buangan domestik dan industri.

Data dari Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi DKI Jakarta pada 2006 menunjukkan pencemaran air sungai mencapai 78% yang tergolong pencemaran berat. M. Sofwan Lutfie, Ketua Paguyuban Masyarakat Peduli Lingkungan, Jakarta Barat mengatakan dampak pengolahan air limbah yang tidak memadai menyebabkan pencemaran bakteri E. Coli dan Coliform.

Kedua bakteri itu sering dijadikan indikator sanitasi, yaitu bakteri yang keberadaannya berasal dari kotoran manusia. “Di Provinsi DKI Jakarta, pencemaran itu sudah mencapai sekitar 85%,” ujarnya. Dengan kata lain, pencemaran sungai di Jakarta masih banyak disebabkan warga Jakarta yang masih membuang kotorannya ke sungai.

Padahal, Pergub Nomor 12 tahun 2005 jelas menyatakan bahwa Pengelolaan Air Limbah Domestik adalah upaya memperbaiki kuaitas air yang berasal dari kegiatan rumah tangga / perkantoran sehingga layak untuk dibuang ke saluran kota/ drainase.

Air Limbah Domestik adalah air limbah yang berasal dari kegiatan rumah, perumahan, rumah susun, apartemen, perkantoran, rumah dan kantor, rumah dan toko, rumah sakit, mall, pasar swalayan, balai pertemuan, hotel, industri, sekolah, baik berupa grey water (air bekas) ataupun black Water (air kotor/tinja). Tatiek Fauzi Bowo, sempat berujar untuk melakukan perbaikan sanitasi atau kebersihan dalam lingkup RT, sehingga terbentuk pola hidup bersih sehat (PHBS) di masyarakat.

Menurut Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH) Pemerintah Kota Jakarta
Barat, Rafdjon Rax kepada SH, Selasa (30/3), selain limbah industri, polutan yang mencemari sungai di Jakarta Barat juga berasal dari rumah tangga. Polutan dari rumah tangga itu terutama berupa deterjen, yang sangat mengurangi kadar oksigen dalam air. Karena itu, sama seperti limbah industri, limbah dari rumah tangga seharusnya juga diolah terlebih dulu dalam instalansi pengolahan limbah sebelum dialirkan ke sungai.

“Kita sejauh ini memang masih sering kecolongan dengan limbah industri. Tetapi, limbah rumah tangga juga sangat berperan dalam pencemaran sungai. Bayangkan, orang mencuci piring, mandi dan mencuci pakaian, semuanya menghasilkan limbah yang mengandung deterjen. Sebagian besar dari limbah rumah tangga itu langsung dialirkan ke sungai, tanpa melalui instalasi pengolahan terlebih dahulu. Deterjen mengurangi kemampuan air untuk mengikat oksigen, sehingga air tidak bisa digunakan untuk perikanan,” ujarnya.

Dengan alasan yang sama pula, BPLH Kotamadya Jakarta Barat sebenarnya sudah berulangkali melarang pemanfaatan air sungai untuk perikanan seperti yang banyak ditemui di Kamal, tak jauh dari jalan tol Sedyatmo. Kendala yang dihadapi untuk membangun fasilitas pengolahan limbah rumah tangga tersebut, menurutnya adalah masalah dana. Hingga kini di Jakarta baru ada satu fasilitas semacam itu yaitu Waduk Setiabudi, Jakarta Pusat. Waduk itu diperkirakan hanya mampu menampung dan mengolah lima sampai tujuh persen dari total limbah rumah tangga warga Jakarta.
Di Bekasi, tidak ada lagi bedanya sungai dengan septic tank. Sungai-sungai itu ditumpahi buangan dari jamban di sepanjang sungai dan limbah sabun rumah tangga. Namun, yang lebih mengerikan, sembilan sungai itu bagai bak sampah bagi limbah cair dari ratusan pabrik di sekitarnya. Sungai berwarna kecokelatan itu seperti ular berbisa yang menakutkan. Dan itu bukan hanya bagi manusia. Ikan-ikan penghuninya pun kini lenyap. “Dulu orang masih sering memancing di sini. Sekarang yang ada cuma ikan sapu-sapu,” kata Yanto, yang tinggal di Kampung Teluk Buyung, Bekasi.
Meski tempat tinggalnya berhadapan dengan sungai, Yanto tak pernah memanfaatkan air sungai. Sungai itu sepuluh tahun lalu masih bisa digunakan untuk mandi dan cuci, tapi kini hanya bisa untuk tempat pembuangan sampah. Anak-anak pun kini menjauhi sungai yang dulu berair tenang dan sering dipakai sebagai tempat bermain itu.
Tak ada masalah yang tak dapat terselesaikan. Setiap masalah pasti ada solusinya, termasuk masalah pencemaran sungai. Selain perlu adanya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) terpadu, pembangunan gorong-gorong (sipon), menjadi alternatif lain mengurangi tingkat pencemaran sungai. Dengan adanya sipon, maka diharapkan pencemaran sungai dapat teratasi.

Jakarta sudah saatnya memiliki prasarana berupa terowongan bawah tanah dalam (Multi Purpose Deep Tunnel/MPDT) yang memiliki berbagai fungsi untuk mengatasi permasalahan di kota tersebut. Menurut Dr. Ir. Firdaus Ali, MSc., anggota Bidang Teknik Badan Regulator Pelayanan Air Minum DKI, sistem MPDT sangat mendesak untuk menjadikan di kota Jakarta terbebas dari permasalahan klasik seperti kemacetan lalu lintas, krisis air bersih, pencemaran sungai, dan banjir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s