Sampah di Jakarta

Kota dengan kepadatan penduduk tertinggi tentu punya banyak permasalahan .Selain kemacetan lalu lintas, banjir, dan pencemaran air sungai, kota Jakarta juga masalah lain yang besar. Jakarta merupakan Kota yang paling banyak memproduksi sampah. Setiap harinya, warga Jakarta telah membuang seberat 600.000 ton setiap harinya. Sampah-sampah tersebut berasal dari aktivitas rumah tangga, pasar, dan lainnya. Persentasi sampah terbesar disumbang oleh rumah tangga, yaitu sebesar 52,97 persen, sementara pasar 4 persen, sekolah 5,32 persen, dan selebihnya perkantoran serta industri.

Misalnya hasil kegiatan Pekan Raya Jakarta (PRJ), sampah-sampah yang dihasilkan dari kegiatan tahunan tersebut oleh petugas dikumpulkan dan diangkut ke tempat pembuangan sampah sementara hingga ke Tempat Pembuangan Akhir di Bantar Gebang, Jawa Barat. Sebagian dari sampah juga diolah menjadi kompos oleh PT Godang Tua Jaya Farmasi. Dalam mengumpulkan sampah-sampah, Dinas Kebersihan DKI Jakarta mengerahkan 830 mobil yang disebar di daerah-daerah di provinsi itu. Fakta tentang sampah di Jakarta (diambil dari Unilever Peduli tahun 2008)adalah sebagai berikut :

1. Data terakhir Dinas Kebersihan Jakarta, menunjukkan jumlah sampah Jakarta sampai saat ini ± 27.966 M³ per hari.
2. Sekitar 25.925 M³ sampah diangkut oleh 757 truk sampah untuk dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah.
3. Sisa sampah ± 2041 M³ yang tak terangkut menjadi masalah yang masih menunggu untuk segera diatasi.
4. Sampai kini, Jakarta masih sangat bergantung terhadap satu-satunya TPA di Bantar Gebang.

Jadi kalau mau kita hitung. Penduduk DKI Jakarta dapat membangun 1 Candi Borobudur setiap 2 Hari dari tumpukan sampah. Dalam setahun, kita dapat membangun 185 buah Candi Borobudur. (Volume Candi Borobudur adalah 55.000 M³). Belum lagi jika selama bulan puasa. Konsumsi masyarakat akan meningkat tajam, terutama saat berbuka puasa dan makan sahur. Hal itu juga membuat volume sampah.

Dampak dari sampah di daerah Jakarta memprihatinkan. Mulai dari sungai yang tercemar, penyubatan saluran selokan dan gorong-gorong, sampai menimbulkan banjir. Jika jalanan yang terkena banjir, lalu lintas kendaraan terganggu. Kendaraan banyak yang terjebak di tengah banjir. Belum lagi jika pemukiman dan fasilitas sekolah bagi warga yang terkena banjir, akan sangat menggangu.

Untuk memaksimalkan pengolahan sampah, Walikotamadya Jakarta Pusat bekerja sama dengan Kota Kitakyushu, salah satu kota peraih predikat terbersih di Jepang. Metode yang bakal diterapkan bernama Takakura – suatu pengolahan yang menghasilkan sampah kering atau aerob.

Menurut Kepala Kantor Lingkungan Hidup Jakarta, Abdul Malik, perwakilan Kota Kitakyushu akan menyambangi Jakarta pada 7 Juni nanti. “Mereka akan mempresentasikan konsepnya,” kata Abdul saat dihubungi Tempo sore ini. Abdul menerangkan, tim dari Jepang ini akan membantu dari segi teknis dengan mengirim tenaga ahli pembuat kompos.

Menurut dia, teknologi pembuatan kompos yang digunakan wilayahnya selama ini menghasilkan sampah yang bersifat anaerob (basah), sehingga masih mengandung gas metan tinggi. Pengolahan sampah Takakura, dijelaskan Abdul, menghasilkan kompos sampah organik yang lebih aman. “Kering, tidak bau, dan berbakteri,” katanya.

Untuk solusi penanganan sampah di Jakarta, Pemprov DKI Jakarta berniat mengubah sampah di Jakarta menjadi listrik. Sampah yang mencapai 5.000 ton per hari akan diubah menjadi listrik 150 megawatt.

Menurut Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta Eko Bharuna, perusahaan yang akan mengolah sampah menjadi listrik sedang dilelang. Sampai saat ini sudah ada 24 perusahaan nasional, yang bermitra dengan perusahaan asing, yang berniat menjadi pengelola sampah itu.

Listrik yang dihasilkan dari sampah, kata Eko, akan dijual ke PLN. Hasil penjualan listrik itu akan dibagi kepada pemprov dan perusahaan pengolah. Investasi untuk mengolah listrik di lahan 108 hektar itu diperkirakan mencapai Rp500 miliar.

Selain pemerintah, warga pun seharusnya ikut membantu pemerintah menatasi permasalahan sampah ini. Misalnya dengan tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi konsumsi terhadap barang atau jasa yang menghasilkan sampah, mendaur ulang sampah, membuat kompos, dan masih banyak lagi yang bisa dilakukan. Semua demi kebaikan kita bersama, mari kita mulai dari sekarang, mulai dari diri kita, dan mulai dari sekarang juga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s