Mungkin

Gagal kah aku

Yang selama ini ?

Burukkah aku, jika aku ?

Bodohkah… Aku hanya menata bata demi bata

Rumahku? Tanahku?

Aku, biarkan aku merebah

Aku hanya harus terbiasa

Sekarat bersama segenggam impian

Yang kadang saat lapar

Kutelan cepat-cepat

Tanpa pernah terwujud

Aku mungkin bodoh

Aku mungkin gagal

Mungkin

Iklan

Ke ruang nakhoda KMP Port Link III

Udah berapa lama ini blog nggak ada posting baru ya? Maklum sekarang saya lagi galau nyari kerjaan sana-sini tapi belum juga dapat hehehe… Abis lulus ternyata nggak gampang cari kerjaan. Agak nyesel juga sebenernya melepas begitu aja pekerjaan di Integrated Laboratory. Padahal tujuan sebenernya biar bisa kerja di Lampung, ternyata susah banget nyari kerjaan di Lampung. Nggak ada lowongan untuk anak Sistem Informasi.

Oke lanjut ke topik awal. Perjalanan kali ini dari rumah mau ke Bogor dengan tujuan mau ngambil ijazah yang katanya sudah jadi. So, ya dari Lampung berangkat mengendarai bus DAMRI Royal Class seharga Rp270000. Perjalanan menyenangkan sih walaupun berangkat sendirian dan penumpang sebelah saya nggak enak buat diajak ngobrol, cuek abis. Sampe akhirnya saking bete nya saya ketiduran. Pas bangun udah sampe di Dermaga 3 Bakauheni.

Nungguin bus masuk ke dalam kapal yang dinaekin sama bapak Jokowi pas abis kunjungan ke Lampung, KMP Port Link III punyanya ASDP. Kapalnya punya ruangan untuk kendaraan yang besar plus ada kafe dan ruang karaoke juga (baru ini, loo yang ada ruang karaokenya). Awalnya agak membingungkan kapal ini, karena susunan ruangannya berbeda dari kebanyakan kapal-kapal lainnya. Dari pajangan-pajangan gambar di dinding kapal, ternyata kapal ini kapal dari negara Korea. Saya di kafenya menikmati santap malam dan minum secangkir kopi, dengan ditemani penumpang yang asyik sama gadgetnya dan nggak bisa diajak ngobrol.

Terus jalan ke luar kafe dan bertemu dengan ABK yang duduk di tangga. Nggak sengaja jadi ngobrol. Saya jadi tau keluh kesahnya ABK yang harus jauh dari keluarga yang berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tidak pulang ke rumah, apa yang mereka lakukan di kapal, tantangan di laut, sampai spesifikasi kapal yang sedang saya naiki. Tiba-tiba menawari saya naik ke bagian nakhoda kapal. Sayapun mengiyakan saja, kesempatan langka looo… Hehehe… Jarang-jarang penumpang biasa tapi ke kabin nakhoda hehehe… Seumur hidup baru kali ini saya naik ke bagian nakhoda.

Sampai di ruang nakhoda,  saya melihat beberapa peralatan navigasi seperti radar dan kompas, dan panel-panel indikator yang sepertinya sensor asap. Juru kemudi kapal ada dua, yaitu orang yang mengendalikan kecepatan kapal, dan yang mengatur arah kapal. Tapi saat saya naik ke kabin kapten kapal sedang beristirahat. Ada juga ruangan khusus untuk komunikasi antara nakhoda dan pihak dermaga. Ruangannya luas dan masing-masing kru bertugas sesuai arahan kapten. Hmmm… seru sekali rasanya.

Satu hal yang saya pelajari adalah : jangan menganggap remeh orang lain. Jangan cuek. Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi jika kita mau membuka diri untuk orang lain. Mungkin saja dari perkenalan iseng, kita bisa dapat teman, jodoh, pekerjaan, pengalaman, atau sekedar cerita yang belum pernah kita dengar sebelumnya. Jangan sibuk sama gadget mulu… Hehehehe….

http://lampost.co/berita/tiba-di-merak-presiden-jokowi-naik-kmp-port-link-iii

http://bisnis.liputan6.com/read/612230/kapal-termewah-ri-dibikin-di-tempat-yang-sama-dengan-titanic

Curhatku : Akhirnya lulus S1

IMG_20140926_171457Segala cerita baik menyenangkan maupun tidak mengenakkan sudah dilalui. Banyak sekali kisah-kisah terjadi saat itu. Cerita yang 4 tahun terjadi kini sudah berakhir. Terima kasih untuk semua orang yang aku temui di dunia ini. Kalian baik langsung maupun tidak langsung telah memberi warna di kehidupanku. Aku yang dulu begitu egois dan pemaksa, kini aku sudah berubah jadi orang yang lebih banyak mendengar dan memahami. Ya semoga tidak hanya predikat sarjana yang akan aku dapatkan, tapi juga predikat kedewasaan. Ya, meski ada beberapa hal yang masih belum berubah. Semoga aku bisa kuliah lagi. Kenapa ketagihan kuliah? Kalian yang nggak merasakan kuliah tidak akan mengerti indahnya dunia perkuliahan. Mulai dari persahabatan, pertemanan, permusuhan, pengkhianatan, rasa iri, simpati, cinta yang tak sampai, dan sebagainya. Begitulah perkuliahan yang aku lalui, memberi banyak pengalaman baru yang seru sekali. Aku bersyukur, misalnya aku tidak berkuliah mungkin aku tidak akan mengalami cerita-cerita luar biasa ini.

Banyak ilmu dan pengalaman yang menjadi bahan pelajaran. Tidak terasa semuanya berlalu, bahkan aku belum tahu jawaban dari gadis impianku itu. Seberapapun aku berusaha untuk mencuri perhatiannya, dia tidak pernah mengacuhkanku. Mungkin aku kurang tampan dan tidak menarik. Lalu pernah aku ungkapkan rasa di hati aku, jawabannya : terima kasih. Entah aku yang terlalu sensitif, atau dia yang tidak punya perasaan, yang jelas aku sakit hati atas pernyataannya. Apa boleh buat, meski hancur rasanya tapi setidaknya aku tahu jawabannya. Lanjut lagi, ketika penulisan ilmiah di smester 5, judul aku mengenai “Pengembangan Studentsite” ditolak. Padahal webnya sudah jadi dan tinggal penulisannya saja yang belum selesai. Ketika aku di smester 8, alangkah terkejutnya aku, ternyata Studentsite nya sudah dikembangkan oleh orang lain. Betapa terkejut dan hancur lagi hati aku. Belum lagi orang tua yang tidak mengizinkan aku kerja di Jakarta dengan berbagai alasan. Alhasil, 4 lamaran aku aborsi. Hancur lagi hati aku. Semoga hancur dan bangkitnya diri ini membawa dampak baik di masa mendatang. Desember nanti, aku akan diwiswuda. Hari yang sangat aku nantikan. Terima kasih semua.

Landasan Teori

Lukmanul Hakim

14110086

3KA14

BAB II

LANDASAN TEORI

 

Pada pembuatan software game Pungut Sampah yang penulis susun, penulis menggunakan JDK(Java Developer Kit), NetBeans, dan ADT (Android Developer Tools). Sistem operasi android sangat mudah dipelajari, dan Google pun menyediakan banyak library untuk mengimplementasikan aplikasi kaya dengan mudah. Sistem operasi Android dimulai sejak diumumkan Open Handset Alliance di sekitar tahun 2007. Sebenarnya ide untuk membuat sistem operasi open source untuk peranti embedded sudah sejak lama. Karena backing dari Google yang sangat agresif, maka Android bisa sangat terkenal hanya beberapa tahun saja. Google menyediakan banyak keudahan untuk pengembang software pihak ketiga, seperti plugin Android Developer Tool untuk Eclipse (dan juga tool standalone) termasuk di dakamnya kemampuan untuk logging secara realtime, emulator realistis yang menjalankan ARM native error dan pelaporan error.

Hal-hal yang perlu diperhatikan mengenai Android adalah sebagai berikut.

  1. Android adalah sistem operasi embedded yang sangat bergantung pada kernel Linux untuk layanan-layanan core-nya, tetapi Android bukanlah Linux embedded. Misalnya, Android tidak mendukung utilitas standar linux, seperti X-Windows dan GNU C libraries. Android tidak mendukung keduanya.
  2. Penulisan program pada Android menggunakan framework Java, namun bukan Java. Karena library standar Java seperti Swing tidak didukung.
  3. Android merupakan sistem operasi Open Source, yang berarti bahwa setiap developer bisa melihat seluruh kode program sistem, termasuk stack radio. Tapi ada beberapa software proprietary yang tidak mungkin bisa diakses oleh developer, seperti navigasi GPS.

Java merupakan bahasa pemrograman yang digunakan pada Android. Namun, pada Android sudah disediakan beberapa library khusus yang hanya bisa digunakan pada Android. Java memiliki keunggulan dapat berjalan di berbagai platform. Saat dikompilasi, Java tidak menghasilkan program dalam bentuk executable, namun dalam bentuk Bytecode. Saat bytecode ingin dieksekusi, bytecode diterjemahkan lagi oleh interpreter untuk memperoleh hasil keluaran dari program tersebut.

Bytecode dianggap sebagai sekumpulan perintah dalam bahasa mesin untuk sebuah JVM(Java Virtual Machine). Setiap interpreter Java, baik berupa development tool maupun web browser merupakan implementasi dari JVM. Program yang dibuat dengan Java tidak mungkin dapat dijalankan did ala, komputer maupun alat lain yang tidak memiliki JVM (Budi 2010).