Mungkin

Gagal kah aku

Yang selama ini ?

Burukkah aku, jika aku ?

Bodohkah… Aku hanya menata bata demi bata

Rumahku? Tanahku?

Aku, biarkan aku merebah

Aku hanya harus terbiasa

Sekarat bersama segenggam impian

Yang kadang saat lapar

Kutelan cepat-cepat

Tanpa pernah terwujud

Aku mungkin bodoh

Aku mungkin gagal

Mungkin

Kenangan : KRL Ekonomi (udah nggak ada)

KRL Ekonomi sudah dihapus

KRL Ekonomi sudah dihapus

<Translate to English

Ya, KRL Ekonomi akhirnya dihapuskan (sumber : dari TV). Memang untuk zaman modern saat ini sudah saatnya kerete itu dibesituakan.

Umurnya sudah sangat tua dan sering “mogok” di tengah rel sehingga kereta lain juga ikutan tersendat akibat KRL yang sering mogok. Banyak kenangannya kereta ini. Bagi saya, kereta ini sudah berjasa mengantarkan para mahasiswa yang kurang mampu untuk beli tiket KRL Ekonomi AC (yang saat itu masih berlaku, harganya Rp5500 dibanding Rp1000-Rp2000 untuk KRL Ekonomi Non-AC). Pengalaman saat itu benar-benar susah-sedihnya saya kuliah. Kondisi kereta yang sudah dari stasiun Bogor dan Cilebut penuh sesak dengan penumpang, saya nekat naik demi tidak terlambat kuliah. Kondisi di dalam gerbong pun sangat sesak. Boro-boro bisa pegangan, bergerak saja susah karena dari segala arah penumpang sudah mengepung saya sehingga tidak bisa berbuat apa-apa selain diam dan tetap memegang tas saya.KRL ekonomi rawan kejahatan, sudah dua kali saya kecopetan.

Bahasa Indonesia: Kereta kelas ekonomi, Stasiu...

Bahasa Indonesia: Kereta kelas ekonomi, Stasiun Gambir (Photo credit: Wikipedia)

Belum lagi pernah saya masuk saat dosen sudah meninggalkan ruangan (waktu itu ada kuis lagi) dikarenakan KRL yang saya tumpangi mogok di antara stasiun Citayam dan Bojong Gede. Saya harus loncat dari kereta (tingginya sekitar 75cm) dan cari alternatif lain agar bisa sampai ke kampus bagaimanapun caranya. Belum lagi cerita tentang teman perempuan saya yang sering ngajak bareng naik kereta.

Wah, sumpah nyesel bangett saya ngajak dia naik KRL Ekonomi. Belum lagi dengan tingkah saya yang mantan anak SMK (sangar, pemarah, nggak ramah sama cewek, kejam,dll). Herannya saya bener-bener ngerasa nggak berdosa ngajak itu cewek naek KRL ekonomi. Saya orang yang paling males beli tiket mahal saat itu, sedangkan dia bapaknya  kerja di PT.KA Commuter dan temen saya itu punya Gold Ticket yang bisa dipake untuk naek kereta sampe bosen. Pertanyaanya : kenapa dia ngajak saya berangkat-pulang bareng? padahal kan dia punya tiket para petinggi di PT.KA ????? Dia bisa naik ke kabin masinis, kenapa dia mau ke gerbong yang bejubel????. (nggak usah banyak nanya, lah. Kalo masalah cewek, hanya dia dan Alloh yang tau, Wallohu A’lam).

Risky Business, KRL Passangers

Risky Business, KRL Passangers (Photo credit: DMahendra)

Oke, balik lagi ngomongin masalah KRL ekonomi. Waktu saya naik KRL Ekonomi AC, dan ada isu kalau ekonomi bakalan dihapuskan, saya sempat berbincang dengan penumpang (bukan cewek)  dan orang itu nyeletuk  “ KRL ekonomi harus dihapuskan, tapi KRL Ekonomi AC harganya harus sama dengan KRL Ekonomi”. Di saat itu dalam hati saya berkata “Mana mungkin. KRL Ekonomi AC kan biaya perawatannya mahal”, tapi sekarang semua itu hampir jadi nyata. Dengan penerapan tarif progressive, tarif KRL semakin terjangkau (tentunya bagi saya juga selaku Mahaiswa).

Komentar : e-Tiket Commuter Line

Suatu hari di stasiun Pondok Cina, saya biasa pulang dari kampus sekitar jam 16.00 WIB. Seperti biasa, saya naik commuter line tujuan Stasiun Bogor. Pergi ke loket dan membayar dengan harga (yang saya harap bisa lebih murah lagi) Rp9.000 (sungguh sangat tidak ekonomis bagi saya yang saat ini belum bekerja dan sebagai mahasiswa). Hal yang biasa setiap hari.

Hal yang menarik pun terjadi. Saya melihat beberapa orang menggunakan kartu untuk keluar melewati pintu stasiun. Saya pikir, sistem kartu Commet kembali diterapkan. Namun, saya salah. Sebenarnya, PT. KJC sudah mengeluarkan sistem tiket elektronik yang baru. Penumpang sekarang tidak lagi memiliki kartu sebagai pengganti tiket. Mereka hanya “dipinjami” kartu itu. Jadi, keterangan tentang kartu singke-trip (sekali jalan) selengkapnya :

1. Penumpang menuju ke loket untuk membeli tiket elektronik, menyebutkan tujuan dan kelas kereta (ekonomi atau commuter line).

2. Kartu akan keluar dari dispenser, lalu penumpang mengambil tiket tersebut.

3. Saat ingin masuk ke peron, penumpang diminta untuk menempelkan kartu ke pembaca kartu.

4. Akan keluar bunyi “bip” sekali yang menandakan verifikasi data sudah benar.

5. Penumpang menggerakkan gerbang putar, dan penumpang masuk.

6. Saat turun di stasiun tujuan, penumpang diminta untuk memasukkan kartu ke slot yang tersedia pada gerbang pembaca, dan kartu akan disedot masuk ke dalam.

7. Penumpang mendorong keluar gerbang.

Data transaksi/bukti pembayaran akan dicetak pada saat penumpang membeli tiket. Jadi, transaksi lebih jelas terpantau.

Mengingat belum sepenuhnya sistem ini diterapkan (Setahu saya, hanya untuk rute Jakarta-Depok), saya belum bisa banyak berkomentar. Namun, selaku pengguna biasa, saya ingin sedikit berkomentar tentang sistem ini. Bagi pengguna yang sudah pasti akan menggunakan kartu secara rutin, sistem ini mungkin akan merepotkan pengguna. Mereka yang ingin menghindari antrean harus tetap mengantre untuk melakukan transaksi. Saya khawatir sistem ini akan dimanfaatkan untuk mereka yang ingin “mencuri” kartu. Sebenarnya, kebocoran yang terjadi pada sistem Commet; menurut saya; hanya pada pengawasan petugasnya saja. Saya sudah ingi memakai kartu Commet, namun sistem ini sudah diberhentika….